A. Tingkat keanekaragaman hayati
1. Pengertian keanekaragaman hayati (biodiversitas).
Pengertian keanekaragaman hayati adalah variabilitas di antara
makhluk hidup dari semua sumber, termasuk interaksi ekosistem terestrial,
pesisir dan lautan dan ekosistem akuatik lain serta kompleks ekologik tempat
hidup makhluk hidup menjadi bagiannya. Hal ini meliputi keanekaragaman jenis, antar
jenis dan ekosistem (Convention on Biological Diversity, 1993).
Pengertian keanekaragaman hayati menurut pendapat
ahli yang
lain yaitu Sudarsono dkk (2005: 6) menyebutkan bahwa keanekaragaman
hayati adalah ketersediaan keanekaragaman sumber daya hayati berupa jenis
maupun kekayaan plasma nutfah (keanekaragaman genetik di dalam jenis),
keanekaragaman antarjenis dan keanekaragaman ekosistem.
Pengertian Keanekaragaman hayati atau biodiversitas menurut Global Village
Translations (2007:4) adalah semua kehidupan di atas bumi ini baik tumbuhan,
hewan, jamur dan mikroorganisme serta berbagai materi genetik yang dikandungnya
dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka hidup. Termasuk didalamnya
kelimpahan dan keanekaragaman genetik relatif dari organisme-organisme yang
berasal dari semua habitat baik yang ada di darat, laut maupun sistem-sistem
perairan lainnya.
Pengertian keanekaragaman hayati yang lebih mudah dari
keanekaragaman hayati adalah kelimpahan berbagai jenis sumberdaya alam hayati
(tumbuhan dan hewan) yang terdapat di muka bumi (Ani Mardiastuti, 1999: 1).
2. Tingkatan keanekaragaman hayati
Tingkatan
Keanekaragaman Hayati
– Keanekaragaman hayati mencakup semua bentuk kehidupan di muka bumi, mulai
dari makhluk sederhana seperti jamur dan bakteri hingga makhluk yang mampu
berpikir seperti manusia (Bappenas, 2004: 6).
Tingkatan Keanekaragaman
hayati dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:
a.)
Keanekaragaman spesies
Keanekaragaman spesies mencakup seluruh spesies
yang ditemukan di bumi, termasuk bakteri dan protista serta spesies dari
kingdom bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan, yang bersel banyak atau
multiseluler). Spesies dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang
menunjukkan beberapa karakteristik penting berbeda dari kelompok-kelompok lain
baik secara morfologi, fisiologi atau biokimia. Definisi spesies secara
morfologis ini yang paling banyak digunakan oleh pada taksonom yang
mengkhususkan diri untuk mengklasifikasikan spesies dan mengidentifikasi
spesimen yang belum diketahui (Mochamad Indrawan, 2007: 16-18).
Contohnya variasi
antara kelapa, siwalan / lontar, aren, dan
pinang. Meskipun mereka merupakan satu kelompok tumbuhan palem-paleman,
namun masing-masing memiliki fisik yang berbeda. Misalnya kelapa tumbuh
di pantai, siwalan tumbuh di daerah kering, dan aren tumbuh di pegunungan
basah.
Contoh lain adalah variasi antara kucing dan
harimau. Kucing dan harimau termasuk dalam satu kelompok kucing. Meskipun
demikian, antara kucing dan harimau
terdapat perbedaan fisik, tingkah laku,
dan habitat.
Keanekaragaman tingkat jenis menunjukkan
adanya variasi bentuk, penampakan, dan frekuensi gen.
b.) Keanekaragaman genetik
Keanekaragaman genetik merupakan variasi genetik
dalam satu spesies baik di antara populasi-populasi yang terpisah secara
geografik maupun di antara individu-individu dalam satu populasi. Individu
dalam satu populasi memiliki perbedaan genetik antara satu dengan lainnya.
Variasi genetik timbul karena setiap individu mempunyai bentuk-bentuk gen yang
khas. Variasi genetik bertambah ketika keturunan menerima kombinasi unik gen
dan kromosom dari induknya melalui rekombinasi gen yang terjadi melalui
reproduksi seksual. Proses inilah yang meningkatkan potensi variasi genetik
dengan mengatur ulang alela secara acak sehingga timbul kombinasi yang
berbeda-beda (Mochamad Indrawan, 2007: 15-25).
Keanekaragaman gen menyebabkan variasi antar
individu sejenis, misalnya keanekaragaman pada tanaman padi dan
mangga. Tanaman padi ada beberapa macam (biasa disebut varietas),
misalnya IR, PB, rojolele, sedani, dan kapuas. Demikian pula
tanaman mangga ada bermacam-macam, misalnya gadung, arum manis, golek, dan
manalagi. Keanekaragaman pada contoh tanaman padi dan mangga tersebut
disebabkan oleh variasi gen.
c). Keanekaragaman
ekosistem
Keanekaragaman ekosistem merupakan komunitas
biologi yang berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik (ekosistem)
masing-masing (Mochamad Indrawan, 2007: 15).
Semua makhluk hidup
berinteraksi dengan lingkungannya yang berupa faktor biotik dan faktor
abiotik. Faktor biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup lain,
sedangkan yang termasuk faktor abiotik adalah iklim, cahaya, suhu, air, tanah,
dan kelembapan (disebut juga faktor fisik); salinitas, tingkat keasaman,
dan kandungan mineral (disebut juga faktor kimia). Baik faktor
biotik maupun faktor abiotik sangat bervariasi. Oleh karena itu, ekosistem
yang merupakan kesatuan dari faktor biotik dan abiotik pun bervariasi pula.
Di Indonesia diperkirakan terdapat
sekitar 47 ekosistem yang berbeda, antara lain ekosistem
hutan bakau (mangrove), hutan hujan tropis, hutan dataran
rendah, hutan rawa, padang rumput (savana), hutan
pantai, laut, terumbu karang, hutan tepi sungai, hutan satu dan hutan rawa
gambut.
B. EKOSISTEM
1. Pengertian ekosistem
Ekosistem adalah suatu proses yang terbentuk karena
adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, jadi
kita tahu bahwa ada komponen biotik (hidup) dan juga komponen abiotik(tidak
hidup) yang terlibat dalam suatu ekosistem ini, kedua komponen ini tentunya
saling mempengaruhi, contohnya saja hubungan heewan dengan air.
Interaksi antara makhluk hidup dan tidak hidup ini akan membentuk suatu
kesatuan dan keteraturan. Setiap komponen yang terlibat memiliki fungsinya
masing-masing, dan selama tidak ada fungsi yang terngganggu maka keseimbangan
dari ekosistem ini akan terus terjaga.
2.
KOMPONEN DALAM EKOSISTEM
Berdasarkan fungsi dan aspek
penyusunannya, ekosistem dapat dibedakan menjadi dua komponen, yaitu sebagai
berikut.
Komponen Abiotik, yaitu komponen yang terdiri atas
bahan-bahan tidak hidup (nonhayati), yang meliputi komponen fisik dan kimia,
seperti tanah, air, matahari, udara, dan energi.
Ada 2 pembagian komponen biotik dalam suatu ekosistem,
yaitu Organisme Autotrof dan Organisme Heterotrof, nah tentu saja sahabat sudah
sering mendengar kedua kata ini, silahkan saja disimak lagi lanjutannya ya :
Organisme Autotrof adalah semua organisme yang mampu
membuat atau mensintesis makanannya sendiri, berupa bahan organik dan
bahan-bahan anorganik dengan bantuan energi matahari melalui proses
fotosintesis. Semua organisme yang mengandung klorofil terutama tumbuhan hijau
daun disebut organisme autotrof. Ada dua pembagian atas Organisme autotrof ini yaitu :
1.Fotoautotrof yang merupakan organisme pemanfaat energi
cahaya untuk mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik.
2.Kemoautotrof yang merupakan organisme pemanfaat energi
dari reaksi kimia untuk membuat bahan makanan sendiri dari bahan organik.
Contohnya adalah bakteri besi, dalam menjalankan proses ini mereka membutuhkan
oksigen.
Organisme Heterotrof adalah semua organisme yang tidak dapat
membuat makanannya sendiri, akan tetapi meman faat kan bahan-bahan organik dari
organisme lainnya sebagai bahan makanannya. Organisme ini terdiri atas 3 tingkatan yaitu :
Konsumen yang secara
langsung memakan organisme lain
Pengurai yang mendapatkan
makanan dari penguraian bahan organik dari bangkai
Detritivor yang merupakan
pemakan partikel organik atau jaringan yang telah membusuk, contoh nya adalah
lintah dan cacing
3. SATUAN MAKHLUK
HIDUP DALAM EKOSISTEM
Individu merupakan satu
makhluk hidup, contohnya seekor burung.
Populasi merupakan
sekumpulan makhluk hidup yang menetap disuatu tempat dalam jangka waktu
tertentu dan mampu berkembangbiak, contohnya sekumpulan semut.
Komunitas merupakan
kumpulan dari populasi yang menempati daerah yang sama dalam waktu jangka waktu
yang panjang.
Ekosistem merupakan
kumpulan dari komunitas tadi yang melibatkan interaksi yang muantap antara makhluk
hidup.
4. MACAM-MACAM
EKOSISTEM
Ada dua macam ekosistem yang terbentuk di bumi kita ini,
yaitu
Ekosistemalamiah
Ekosistem ini adalah ekosistem yang tercipta dengan
sencirinya tanpa ada campur tangan dari manusia, oleh karena itu lah kita sebut
sebagai ekosistem Alamiah. Contohnya adalah ekosistem laut dan sungai.
EkosistemBuatan
Seperti namanya, ekosistem ini merupakan yang terbentuk
dengan adanya campur tangan manusia, Dibuat kebanyakan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Namun keanekaragaman hayati di sini terbatas, karena bukan itu tujuan
dari membuat ekosistem ini. Contohnya adalah sawah.
Macam Ekosistem
Di bumi ada bermacam-macam ekosistem,
yaitu ekosistem alam dan buatan. Secara garis besar ekosistem alam dibedakan
menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan
atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.
1. Ekosistem Darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang
lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis
lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai berikut.
Gurun
Gurun dan setengah gurun
banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, Australia dan Asia Barat.
Ciri-ciri:
Ciri-ciri:
Curah hujan sangat rendah,
+ 25 cm/tahun
Kecepatan penguapan air
lebih cepat dari presipitasi
Kelembaban udara sangat
rendah
Perbedaan suhu siang
haridenganmalamharisangattinggi(siangdapat mencapai 45 C, malam dapat turun
sampai 0 C)
Tanah sangat tandus karena
tidak mampu menyimpan air
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan daerah kering (tumbuhan serofit).
- Fauna: hewan besar yang hidup di gurun umumnya yang mampu menyimpan air, misalnya unta, sedang untuk hewan-hewan kecil misalnya kadal, ular, tikus, semut, umumnya hanya aktif hidup pada pagi hari, pada siang hari yang terik mereka hidup pada lubang-lubang.
Beberapa bioma gurun terdapat di daerah tropik (sepanjang garis khatulistiwa) yang berbatasan dengan padang rumput.
- Flora: tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan daerah kering (tumbuhan serofit).
- Fauna: hewan besar yang hidup di gurun umumnya yang mampu menyimpan air, misalnya unta, sedang untuk hewan-hewan kecil misalnya kadal, ular, tikus, semut, umumnya hanya aktif hidup pada pagi hari, pada siang hari yang terik mereka hidup pada lubang-lubang.
Beberapa bioma gurun terdapat di daerah tropik (sepanjang garis khatulistiwa) yang berbatasan dengan padang rumput.
Padang Rumput
Padang rumput membentang
mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti
Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia.
Ciri-ciri:
Ciri-ciri:
Curah hujan antara 25 - 50
cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100
cm/tahun.
Curah hujan yang relatif
rendah turun secara tidak teratur.
Turunnya hujan yang tidak
teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga
tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan porositas dan drainase kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan,
puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
- Fauna: bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan kanguru diAustralia. Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheetah.
- Flora: tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan porositas dan drainase kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan,
puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
- Fauna: bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan kanguru diAustralia. Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheetah.
Hutan Hujan Tropik
Hutan tropis memiliki
keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang paling tinggi. Meliputi daerah
aliran sungai Amazone-Orinaco, Amerika Tengah, sebagi`n besar daerah Asia
Tenggara dan Papua Nugini, dan lembah Kongo di Afrika.
Ciri-ciri:
Curah hujannya tinggi,
merata sepanjang tahun, yaitu antara 200 - 225 cm/tahun.
Matahari bersinar sepanjang
tahun.
Dari bulan satu ke bulan
yang lain perubahan suhunya relatif kecil.
Di bawah kanopi atau tudung
pohon, gelap sepanjang hari, sehingga tidak ada perubahan suhuantara siang dan malam hari.
- Flora: pada bioma hutan tropis terdapat beratus-ratus spesies tumbuhan. Pohon-pohon utama dapat mencapai ketinggian 20 - 40 m, dengan cabang-cabang berdaun lebat sehingga membentuk suatu tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas yang dijumpai adalah liana dan epifit. Liana adalah tumbuhan yang menjalar di permukaan hutan, contoh: rotan. Epifit adalah tumbuhan yang menempel pada batang-batang pohon, dan tidak merugikan pohon tersebut, contoh: Anggrek, paku Sarang Burung.
- Fauna: di daerah tudung yang cukup sinar matahari, pada siang hari hidup hewan-hewan yang bersifat diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari, di daerah bawah kanopi dan daerah dasar hidup hewan-hewan yang bersifat nokfurnal yaitu hewan yang aktif pada malam hari, misalnya: burung hantu, babi hutan,kucing hutan, macan tutul.
- Flora: pada bioma hutan tropis terdapat beratus-ratus spesies tumbuhan. Pohon-pohon utama dapat mencapai ketinggian 20 - 40 m, dengan cabang-cabang berdaun lebat sehingga membentuk suatu tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas yang dijumpai adalah liana dan epifit. Liana adalah tumbuhan yang menjalar di permukaan hutan, contoh: rotan. Epifit adalah tumbuhan yang menempel pada batang-batang pohon, dan tidak merugikan pohon tersebut, contoh: Anggrek, paku Sarang Burung.
- Fauna: di daerah tudung yang cukup sinar matahari, pada siang hari hidup hewan-hewan yang bersifat diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari, di daerah bawah kanopi dan daerah dasar hidup hewan-hewan yang bersifat nokfurnal yaitu hewan yang aktif pada malam hari, misalnya: burung hantu, babi hutan,kucing hutan, macan tutul.
Hutan Gugur (Deciduous
Forest)
Ciri khas hutan gugur
adalah tumbuhannya sewaktu musim dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini
dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili.
Ciri-ciri:
- Curah hujan merata sepanjang tahun, 75 - 100 cm/tahun.
- Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim gugur dan
musim semi
- Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada bioma hutan
tropis.
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, subu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim sem
Ciri-ciri:
- Curah hujan merata sepanjang tahun, 75 - 100 cm/tahun.
- Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim gugur dan
musim semi
- Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada bioma hutan
tropis.
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, subu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim sem
Taiga & Tundra
Taiga
Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
Tundra
Tundra terdapat di belahan
bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak
gunung tinggi.
Pertumbuhan tumbuhan di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, lumut kerak, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya karibou, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
Pertumbuhan tumbuhan di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, lumut kerak, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya karibou, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
2. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara
lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh
iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir
semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar
pada umumnya telah beradaptasi.
Tumbuhan bersel satu yang hidup di air
tawar mempunyai dinding sel kuat misalnya beberapa alga biru dan alga hijau.
Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai
akar jangkar.
Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di
habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau
isotonis. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya
ikan, mengatasi perbedaan tekanan osmosis dengan melakukan osmoregulasi untuk
memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang,
clan pencernaan.
Organisme dalam air dapat digolongkan
berdasarkan aliran energi clan cara hidup.
1. Berdasarkan aliran energi, organisme
dibagi menjadi autotrof (tumbuhan) dan fagotrof, yaitu karnivor predator,
parasit, dan saproba atau organisme yang memakan sisa-sisa organisme.
2. Berdasarkan cara hidup, organisme dibedakan
sebagai berikut.
a) Plankton; terdiri atas
fitoplankton dan zooplankton; melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak
aliran air.
b) Nekton; hewan yang aktif
berenang dalam air, misalnya ikan.
c) Neuston; organisme yang mengapung atau berenang
di permukaan air atau berada pada permukaan air, misalnya serangga air.
d)Perifiton; merupakan tumbuhan
atau hewan yang melekat pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
e)Bentos; hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar
atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak
bebas, misalnya cacing dan remis.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi
air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan
rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.
1. Danau
Danau merupakan suatu badan air yang
menggenang dan luas. Di danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi
cahaya matahari. Daerah yang dapat ditembus cahaya matahari sehingga terjadi
fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak tertembus cahaya
matahari disebut daerah afotik. Di danau juga terdapat daerah perubahan
suhu yang drastis, disebut terrnoklirt. Termoklin memisahkan daerah yang
hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar
di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi. Berdasarkan hal
tersebut danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.
a) Daerah litoral
Daerah ini merupakan daerah dangkal.
Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat ber
dekatan dengan tepi danau. Tumbuhannya
merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas
permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang
yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga,
crustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular,
itik, angsa, dan mamalia yang sering mencari makan di danau.
b) Daerah limnetik
Daerah ini merupakan daerah air bebas
yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni
oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan cyanobakteri. Ganggang
berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan
musim semi.
Zooplankton yang sebagian besar termasuk
Rotifera dan udang-udangan kecil pemangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan
oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian
ikan besar dimangsa ular, kurakura, dan burung pemakan ikan.
c) Daerah profundal
Daerah ini merupakan daerah yang dalam,
yaitu daerah afotik danau. Mikroba dan organisme lain menggunakan oksigen
untuk respirasi seluler setelah mendekomposisi detritus yang jatuh dari daerah
limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.
d) Daerah bentik
Daerah ini merupakan daerah dasar danau
tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.
Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan
produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut.
a) Danau oligotrofik
Oligotrofik merupakan sebutan untuk
danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik
tidak produktif. Ciri-cirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit
organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b) Danau eutrofik
Eutrofik merupakan sebutan untuk danau
yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat
produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme,
dan oksigen terdapat di daerah profundal.
Danau oligotrofik dapat berkembang
menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik dan endapan yang
masuk. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya
dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya
danau dengan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi
ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang
berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.
Peristiwa seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi
membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.
2. Sungai
Sungai adalah suatu badan air yang
mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit
sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen
pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang.
Komunitas yang berada di sungai berbeda
dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan
komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai
gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tumbuhan berakar,
sehingga dapat mendukung rantai makanan.
Komposisi komunitas hewan juga berbeda
antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai ikan air
tawar. Di hilir sering dijumpai ikan lele dan gurame. Beberapa sungai besar
dihuni oleh berbagai kurakura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni
oleh buaya dan lumba-lumba.
Organisme sungai dapat bertahan tidak
terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh pipih
dorsoventral dan dapat melekat pada batu.
Beberapa jenis serangga yang hidup di
sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.
3.Ekosistem air laut
Ekosistem air laut dibedakan atas
lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
1. Laut
Habitat laut (oseanik)
ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion Cl-
mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan
penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu
bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian
atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air
laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap
subur dan banyak plankton serta ikan.
Gerakan air dari pantai ke
tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga
memungkinkan terbentulazya rantai makanan.
Habitat laut dapat
dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara
horizontal.
1. Menurut kedalamannya, ekosistem air
laut dibagi sebagai berikut.
a)Litoral merupakan daerah yang
berbatasan dengan darat.
b) Neritik merupakan daerah yang
masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar, dalamnya ± 300
meter.
c) Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar
antara 200-2.500 meter.
d) Abisal merupakan daerah yang
lebih jauh clan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m). Lihat Gambar 10.19.
2. Menurut wilayah permukaannya secara
horizontal, berturut-turut dari tepi laut, laut dibedakan sebagai berikut.
a) Epipelagik merupakan daerah
antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
b) Mesopelagik merupakan daerah
di bawah epipelagik dengan kedalaman 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
c) Batiopelagik merupakan daerah jereng benua dengan
kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
d) Abisalpelagik merupakan
daerah dengan kedalaman mencapai 4.000 m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan
masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah iii. e) Hadal pelagik
merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di
bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan
cahaya. Sebagai produser di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan
karang tertentu.
Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat
rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air
laut.
Hewan tingkat
tinggi beradaptasi dengao cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, clan pengeluaran air dengan
cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui
insang secara aktif.
2. Ekosistem pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan
dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut.
Ekosistem pantai dipengaruhi oleh
siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki
adaptari struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah
paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni
oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi makanan bagi
kepiting dan burung pantai.
Daerah tengah pantai terendam saat pasang
tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon
laut, remis dan kerang, siput herbivor dan karnivor, kepiting, landak laut,
bintang laut, dan ikanikan kecil.
Daerah pantai terdalam terendam saat
air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan
serta rumput l aut.
Komunitas tumbuhan berturut-turut dari
daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai berikut.
a) Formasi pes caprae
Dinamakan demikian karena yang paling
banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang
tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun
tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna,
Euphorbia atoto, dan Canavalia martina. Lebih ke arah darat lagi
ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan),
dan Scaevola fruescens (babakoan).
b) Formasi baringtonia
Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia,
termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.
Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan
bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di
daerah berlumpur yang kurang oksigen.
Selain berfungsi untuk mengambil
oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut
gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acatlws,
Rhizophora, dan Cerbera.
Jika tanah pasang surut tidak terlalu
basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, AcXicras, dan
Cylocarpus. Lihat Gambar 10.21.
3. Estuari
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya
sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal
yang luas atau rawa garam. Lihat Gambar 10.22.
Salinitas air berubah secara bertahap
mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus
harian dengan pasang surut airnya. Nutrien dari sungai memperkaya daerah
estuari.
Komunitas tumbuhan yang hidup di
estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas
hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada
beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat
kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan
tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.
4. Terumbu karang
Di laut tropis, pada daerah neritik,
terdapat suatu komunitas khusus yang terdiri dari karang batu clan
organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah
komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat
berlangsung.
Terumbu karang didominasi oleh karang
(koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat.
Rangka dari kalsium karbonat ini bermacam-macam bentuknya dan menyusun substrat
tempat hidup karang lain dan ganggang.
Hewan-hewan yang hidup di karang
memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata,
mikroorganisme, dan ikan hidup di antara karang clan ganggang. Herbivor
seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan
ikan karnivor.
Ekosistem
buatan
Ekosistem buatan
adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan
mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi
pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.
a. Bendungan
Suatu ekosistem buatan yang
berupa bangunan penahan atau penimbun air untuk berbagai keperluan,
misalnya irigasi, pembangkit listrik.
b. Hutan tanaman industri
Hutan yang sengaja ditanami
dengan jenis tanaman industri. Jenis tanaman yang umum ditanam adalah
pinus, mahoni, rasamala, dammar, dan jati seperti gambar disamping
c. Agroekosistem
Suatu ekosistem buatan
berupa ekosistem pertanian, misalnya sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah
surjan, sawah rawa, sawah pasang surut, perkebunan (teh, kopi kelapa sawit, dan
karet), kolam tambak, ladang, dan pekarangan.
5. INTERAKSI DALAM
EKOSISTEM
Tentunya setelah mengetahui komponen dalam suatu
ekosistem kita bertanya-tanya bagaimana sesungguhnya hubangan antara makhluk
hdup yang tinggal menetap dalam suatu ekositem, nah begini nih sahabat
Setiap makhluk hidup akan berusaha untuk mempertahankan
populasinya, tentu dengan cara mencari makanan dan terus berkembang biak,
seperti yang kita ketahui ada makhluk hidup karnivora dan herbivora hal ini
akan menimbulkan hubungan erat yang biasa dinamakan rantai makanan dan jaring
jaring makanan. Saya akan menambahkan gambar saja ya, mudah-mudahan sahabat
semuanya dapat mengerti melalui gambar ini
1.
Rantaimakanan
|
Rantai Makanan
|
2.Jaring-jaringmakanan
6. PENCEMARANEKOSISTEM
Ekosistem ini sebenarnya memberikan banyak keuntungan
dalam kehidupan manusia, namun banyak dari kita tidak menyadarinya sehingga
bertindak hanya demi kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampaknya bagi
kehidup anak cucu kita, betapa tidak, banyak orang melakukan penebangan liar,
pembakaran hutan, membuang limbah berbahaya ke laut, nah lihatlah dampaknya !!
Tahukah anda,
bahwa Indonesia itu merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki
keanekaragaman hayati yang tinggi dari dua negari setelah Brazil dan
Zaire.Tetapi dibanding dua negara tersebut ,Indonesia memiliki keunikan
tersendiri yaitu Indonesia memiliki areal tipe Indo-Malaya yang luas dan juga
tipe Oriental,Australia, dan Peralihannya.
Indonesia adalah
salah satu pusat keragaman hayati terkaya didunia. Di Indonesia terdapat
sekitar 25.000 spesies tumbuhan berbunga (10% dari tumbuhan berbunga dunia).
Jumlah spesies mamalia adalah 515 (12% dari jumlah mamalia dunia). Selain itu
ada 600 spesies reptilia; 1500 spesies burung dan 270 spesies amfibia.
Diperkirakan 6.000 spesies tumbuhan dan hewan digunakan oleh masyarakat
Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada sekitar 7.000 spesiers ikan
air tawar maupun laut merupakan sumber protein utama bagi masyarakat Indonesia
(Shiva, 1994).
Keanekargaman
hayati Indonesia adalah sumber daya yang penting bagi pembangunan nasional.
Sifatnya yang mampu memperbaiki diri merupakan keunggulan utama untuk dapat di
manfaatkan secara berkelanjutan. Sejumlah besar sektor perekonomian nasional
tergantung secara langsung ataupun tak langsung dengan keanekaragaman
flora-fauna, ekosistem alami dan fungsi-fungsi lingkungan yang dihasilkannya.
Konservasi keanekaragaman hayati, dengan demikian sangat penting dan menentukan
bagi keberlanjutan sektor-sekrtor seperti kehutunan, pertanian, dan perikanan,
kesehatan, ilmu pengetahuan, industri dan kepariwisataan, serta sektor-sektor
lain yang terkait dengan sektor tersebut.
Indonesia terletak
di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibanding
dengan daerah subtropik dan daerah kutub.Dengan keanekaragaman hayati yang
berbeda maka dapat dibedakan berdasarkan :
1.
Keanekaragaman
Indonesia Berdasarkan Karakteristik Wilayahnya
Secara astronomis indonesia berada pada 60 LU - 110 LS dan 950 BT -
1410 BT yang artinya indonesia terletak didaerah iklim tropis (daerah tropis
berada diantara 23 1/20 LU dan 23 1/20 LS). Ciri - ciri daerah tropis antara
lain temperatur cukup tinggi (260C - 280C), curah hujan cukup banyak (700
- 7000mm/ tahun) dan tanahnya subur karena proses pelapukan batuan cukup cepat.
Bila dilihat dari geografis , indonesia terletak pada pertemuan dua rangkaian
pegunungan muda, yakni Sirkum Pasifik dan Rangkaian Sirkum Mediterania,
sehingga indonesia memiliki banyak pegunungan berapi. Hal tersebut menyebabkan
tanah menjadi subur.Di Indonesia terdapat 10% spesies tanaman, 12% spesies
mamalia, 16% spesies reptilia dan amfibi , dan 17% dari spesies burung yang ada
didunia. Sejumlah spesies tersebut bersifat endemik , yaitu hanya terdapat di
Indonesia dan tidak ditemukan ditempat lain.
Persebaran organisme dimuka bumi dipelajari dalam cabang biologi yang disebut
biogeografi . Studi tentang penyebaran spesies menunjukkan bahwa spesies -
spesies berasal dari satu tempat, namun selanjutnya menyebar keberbagai daerah
.Organisme tersebut kemudian mengalami diferensiasi menjadi subspesies baru dan
spesies baru yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.
Penghalang geografi atau barrier seperti gunung yang tinggi, sungai dan lautan dapat
membatasi penyebaran dan kompetisi dari suatu spesies (isolasi geografi).
Adanya isolasi geografi juga menyebabkan perbedaan susunan flora dan fauna
diberbagai tempat.
Berdasarkan adanya persamaan fauna didaerah - daerah tertentu , maka dapat
dibedakan menjadi 6 daerah biogeografi dunia sebagai berikut:
ü
Nearktik :
Amerika utara
ü
Palearktik :
Asia sebelah utara Himalaya, Eropa dan Afrika , gurun sahara sebelah utara.
ü
Neotropikal :
Amerika Selatan bagian tengah.
ü
Oriental:
Asia, Himalaya bagian selatan.
ü
Ethiopia :
Afrika
a.
Persebaran
Hewan Di Indonesia
Kepulauan
Indonesia merupakan tempat dua kawasan / daerah bertemuyaitu kawasan oriental
yang amat kaya akan binatang dan mamalia. Wallace memperhatikan perbedaan pada
flora dan faunanya, dan berhasil menarik garis pada peta sedemikian serupa
sehingga memisahkan kelompok kehidupan satu sama lain.
Hewan bagian barat
indonesia memiliki ciri-ciri :
·
Banyak
spesies mamalia yang berukuran besar .contoh : gajah,banteng,harimau,badak.
·
Mamalia
berkantung jumlahnya sedikit,bahkan hampir tidak ada .
·
Terdapat
berbagai jenis kera.contoh : bekantan,tarsius,orang utan.
·
Terdapat
hewan endemik.contoh : badak bercula satu,binturong,monyet,tarsius kukang.
·
Burung-burung
memiliki bulu yang kurang menarik ,tetapi dapat berkicau.contoh : jalak
bali,elang jawa,murai mengkilat,elang putih.
Hewan bagian barat
yang merupakan paparan sunda memiliki fauna asia, contohnya berbagai jenis
kera, gajah, macan, kerbau liar, babi hutan, dan rusa.
·
Sumatra
memiliki hewan - hewan yang khas, seperti: gajah, tapir, badak bercula dua, harimau,
siamang, dan orang utan.
·
Jawa
memiliki badak bercula satu, harimau dan banteng.
·
Kalimantan
memiliki badak bercula dua, macan tutul, orang utan, kera berhidung panjang,
dan beruang madu.
Hewan bagian timur
Indonesia yang meliputi irian,Maluku,Sulawesi,Nusa tenggara sama dengan tipe
Australia.Ciri-ciri hewannya :
·
Mamalia
berukuran kecil
·
Banyak
hewan berkantung
·
Tidak
terdapat species kera
·
jenis-jenis
burung yang memiliki warna berbeda
Bagian timur
indonesia ditempati fauna tipe Australia yang terdiri atas burung - burung
dengan warna menyolok misalnya Kasuari, burung nuri, parkit, cendrawasih, dan
merpati berjambul, beberapa jenis hewan berkantung misalnya kanguru, wallabi,
dan kanguru pohon.dibagian tengah , seperti sulawesi terdapat hewan yang khas
yaitu anoa,dan dipulau komodo terdapat komodo (biawak besar).
·
Irian
jaya memiliki hewan mamalia berkantung misalnya kanguru,kuskus .
·
Papua
memiliki koleksi burung terbanyak seperti burung cendrawasih.
·
Nusa
tenggara terdapat reptile terbesar yaitu komodo
3.
Persebaran
hewan diwilayah Indonesia tengah (tipe peralihan)
Daerah peralihan
meliputi daerah disekitar garis Wallace yang terbentang dari Sulawesi sampai
kepulauan Maluku.Bagian kepulauan indonesia ini merupakan daerah peralihan
antara kawasan Australian dan Oriental. Daerah yang merupakan tempat peralihan
yang mecolok adalah sulawesi. Jenis hewannya antara lain tarsius ,maleo,anoa
dan babi rusa.
Tumbuhan
diindonesia merupakan geografi Indo-Malaya .Flora Indo-Malaya meliputi tumbuhan
yang hidup di India,Vietnam,Thailand,Malaysia,Indonesia dan Filiphina.Flora yang
biasa tumbuh di Negara ini sering disebut Flora Malesiana.
Hutan diindonesia
merupakan bioma hutan hujan tropis atau hutan basah yang memiliki ciri :
·
Memiliki
kanopi yang rapat
·
Banyal
tumbuhan liana seperti rotan .
Tumbuhan khas Indonesia
yaitu Durian,Mangga,Sukun yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa
.Didaerah ini juga memiliki memiliki tumbuhan endemik seperti Raflessia
Arnoldhi.Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis
anggur liar yaitu Testrastigma.Indonesia bagian timur juga memiliki tipe hutan
yang agak berbeda .Mulai dari Sulawesi sampai irian jaya terdapat hutan
non Dipterocarpaceae.Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang seperti Beringin dan
Matoa.
Bioma dapat
dairtikan sebagai macam komuniatas utama yang terdapat pada suatu daerah
yang dapat dikenal berdasarkan fisiognomi .Sifat dan karakteristik suatu bioma
merupakan fungsi iklim (suhu , curah hujan, cahaya dan tanah).
Garis pembatas
atau pemisah antara dua bioma walaupun tidak jelas, disebut ecotone. Ekoton
ditempati oleh tumbuhan dan hewan yang khas. Biorna-bioma umumnya ditentukan
oleh vegetasi atau tumbuhan yang dominan. Hal ini cenderung mencermikan iklim
yang umum dari area tersebut. Ada berbagai bioma didunia, yaitu gurun, padang
rumput, hutan hujan tropis, hutan gugur, dan savana.
·
Gurun
(Padang Pasir) : bioma ini terdapat di afrika, Amerika, Australia dan Cina.
·
Padang
Rumput : bioma ini terbentang dari daerah tropik hingga subtropik, misalnya di
Amerika.
·
Hutan
hujan tropis : terdapat di daerah tropik dan subtropik contoh di amerika
selatan (Brasil) , Asia Termasuk Indonesia) dan Afrika.
·
Hutan
Gugur (Deciduos Forest) : merupakan bioma yang khas didaerah sedang.
·
Savana
: terdapat dikedua sisi khatulistiwa, berkembang dengan lebih baik di Afrika
dan Amerika Selatan. Savana terdapat jiga di India, Asia Selatan, Australia,
dan Indonesia (Irian, NTT, dan NTB).
·
Flora
Malesiana
Hutan didaerah
Flora Malesiana memiliki kurang lebih 248.000 spesies tumbuhan
tinggi,didominasi oleh pohon dari Familia Dipterocarpaceae yaitu pohon yang
menghasilkan biji bersayap.tumbuhan yang termasuk familia itu adalah
keruing,Meranti,Kayu garu, dan Kayu kapur .
Indonesia memiliki
2 diantara 5 bioma didunia, yaitu bioma hutan hujan tropis dan bioma
savana. Bioma hutan hujan tropis yang memiliki keanekaragaman tumbuhan
yang sangat tinggi adalah Malesiana.Flora Malesiana meliputi tumbuhan yang
terdapat di Sumatra, Kalimantan, Filiphina Utara, dan Kepulauan Indonesia
lainnya.
Tumbuhan Khas
Malesiana yang terkenal adalah Rafflesia Arnoldii. Tumbuhan ini merupakan
parasit yang hidup melekat pada akar atau batangtumbuhan pemanjat Tetrasigma.
Penyebaran Rafflesia meliputi sumatra (Aceh , Bengkulu), Malaysia, Kalimantan
dan jawa.
Di Papua ditemukan
pohon buah khas yang disebut matoa (pometia pinnata). Matoa ini rasanya hampir
mirip durian dan rambutan. Buah matoa berangkai seperti anggur berbentuk bulat
kecil, dan berkulit tipis.
KEUNIKAN BIODIVERSITAS
INDONESIA
Indonesia merupakan salah satu negara
di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan keunikan
tersendiri.
1.
Memiliki Keanekaragaman Hayati Tinggi
Dibandingkan dengan jenis makhluk hidup yang
di dunia, diperkirakan Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga, 12%
jenis hewan menyusui, 16% jenis reptile dan amfibi, 17 % jenis burung,
dan 25% jenis ikan.
2.
Memiliki Flora Malesiana
Malesiana meliputi wilayah Indonesia,
Malaysia, Philipina, Papua New Guinea, dan Kepulauan Solomon. Wilayah
Malesiana terletak di daerah sekitar khatulistiwa yang beriklim tropis. Curah
hujannya relatif tinggi. Terdapat banyak hutan hujan tropis.
Didominasi oleh pohon dari famili
Dipterocarpaceae (meranti-merantian), misalnya meranti, keruing,
dan kayu garu. Selain itu, banyak tumbuhan liana (tumbuhan memanjat)
seperti anggrek (Orchidaceae) dan rotan. Ada juga berbagai
jenis tumbuhan buah antara lain duku, durian, rambutan, salak, sukun,
jambu air, mangga, dan matoa (banyak di Papua).
3.
Memiliki Fauna Daerah Oriental dan Australia
Alfred Russel Wallace mengelompokkan bumi menjadi 6 daerah
biogeografi, yaitu Australia, Oriental, Ethiopia, Neotropik, Palearktik, dan
Nearktik.
Berdasarkan garis Wallace,
Indonesia terbagi menjadi daerah Oriental (bagian barat Indonesia) dan
daerah Australia (bagian timur Indonesia).
Bagian barat Indonesia (Sumatra, Jawa,
Bali dan Kalimantan) memiliki jenis hewan yang relatif sama
seperti gajah, orangutan, harimau, badak, banteng, tapir, ular kobra,
primata primitif (tarsius), siamang, burung merak, dan unggas
hutan. Beberapa hewan bersifat endemik antara lain badak bercula satu (di
Ujung Kulon, Banten), jalak bali, dan elang Jawa.
Wilayah Indonesia bagian timur, yaitu Papua,
Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara memiliki hewan yang relatif sama
dengan Australia. Di Papua terdapat kanguru, kuskus, burung cendrawasih, burung
kasuari, burung kakatua, dan berbagai jenis hewan pengerat (rodentia).
Beberapa jenis hewan endemik contohnya komodo di Pulau Komodo (NTT), serta
babirusa dan anoa di Sulawesi.
4.
Memiliki Berbagai Jenis Flora dan Fauna
Langka
Ada sekitar 200 jenis tumbuhan langka asli
Indonesia yang populasinya cenderung menurun. Contohnya eboni/kayu hitam,
ulin/kayu besi (Styrax benzoin), kepel, gaharu, bunga bangkai
raksasa (Amorphophallus titanium), raflesia (Rafflesia
sp.), durian lae (Durio kutejensis), durian daun,
anggrek bulan jawa, anggrek buntut
tikus, gandaria, dan mundu (Garcinia
dulcis).
Hewan langka di Indonesia antara lain
orangutan (Pongo pygmaeus), badak bercula satu, badak
bercula dua, komodo, cendrawasih (Paradisaea sp.), maleo,
kasuari, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis),
babirusa, dan tarsius.
C. MANFAAT
KEANEKARAGAMAN HAYATI BAGI MANUSIA
1. Untuk
Bahan Pangan
Padi, jagung, sagu, dan umbi-umbian merupakan
sumber karbohidrat. Kacang-kacangan misalnya kacang hijau, kacang tanah, dan
kedelai merupakan sumber protein nabati. Kelapa sawit dan bunga matahari,
merupakan sumber lemak. Berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan
sumber vitamin dan mineral.
Demikian pula berbagai hewan ternak (ayam,
sapi, kambing, dan ikan) merupakan sumber protein hewani. Beberapa jenis
mikroba telah dimanfaatkan dalam pembuatan makanan fermentasi, misalnya tempe,
tape, minuman dan nata de coco.
2. Untuk
Bahan Obat-obatan
Tanaman obat-obatan terutama berasal dari
famili Zingiberaceae seperti jahe, kunyit, lengkuas, kencur,
dan temulawak. Selain itu sirih, kumis kucing, jambu biji,
sambiloto juga digunakan sebagai obat-obatan. Beberapa jenis mikroba
dimanfaatkan dalam pembuatan obat-obatan dan enzim.
3. Untuk
Bahan Industri dan Bangunan
Tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan baku
industri kertas, pakaian, dan wewangian. Gaharu digunakan
sebagai bahan wewangian yang mahal. Tumbuhan penghasil getah
digunakan sebagai bahan baku industri. Kayu dimanfaatkan untuk pembuatan
bangunan atau alat rumah tangga dan bahan kerajinan.
4. Untuk
Fungsi Ekologi
Tumbuhan mampu menghasilkan oksigen yang
dibutuhkan untuk pernapasan organisme melalui proses fotosintesis.
Tumbuhan juga melindungi permukaan tanah dari air hujan dan teriknya matahari.
Beberapa jenis serangga, seperti kupu-kupu
dan lebah, bermanfaat dalam penyerbukan tanaman. Mikroba berperan
menguraikan sisa-sisa organisme yang telah mati.
5. Untuk
Keindahan
Berbagai jenis tumbuhan digunakan sebagai
tanaman hias. Beberapa jenis hewan juga dimanfaatkan manusia karena
keindahan bulunya atau kemerduan suaranya.
6.
Sebagai Bahan untuk Penelitian
7.
Sebagai Sumber Plasma Nutfah
Hewan, tumbuhan, dan
mikroba yang bersifat unggul dapat dibudidayakan untuk memberi manfaat bagi
Indonesia. Plasma nutfah hewan banyak tersimpan pada hewan domestika
maupun yang masih hidup liar di hutan.
D. DAMPAK
AKTIVITAS MANUSIA TERHADAP KEANEKARAGAMAN
HAYATI
Meskipun keanekaragaman hayati
merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, kemampuan untuk memperbaruinya
terbatas. Untuk itu pemanfaatannya harus bijaksana sehingga tidak
merugikan generasi mendatang.
Aktivitas manusia dapat menurunkan (dampak
negatif) atau meningkatkan (dampak positif) keanekaragaman hayati.
1.
Menurunkan Keanekaragaman Hayati
a.
Penebangan Hutan
Penebangan hutan secara berlebihan dan tanpa
perhitungan yang baik akan merusak kehidupan tumbuhan, hewan dan
mikroba.
b.
Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan dapat disebabkan oleh
penggunaan pestisida seperti insektisida dan herbisida.
c.
Berkurangnya Luas Habitat dan Kerusakan Habitat
Luas habitat hewan dan tumbuhan dapat
berkurang karena penebangan liar atau pembukaan hutan untuk dijadikan tanah
pertanian atau pemukiman. Kerusakan habitat lainnya misalnya akibat
perusakan terumbu karang dan penebangan hutan bakau. Akibatnya dapat menurunkan
keanekaragaman biota laut dan hutan bakau.
d. Erosi
Plasma (Erosi Plasma Nutfah)
Erosi gen dapat disebabkan oleh
seleksi manusia dalam memilih tumbuhan tertentu. Seringkali bibit tanaman
asli (lokal) terdesak oleh bibit unggul dari luar, sehingga varietas yang
dianggap kurang unggul dilupakan. Misalnya, orang lebih suka menanam
jambu bangkok dan durian bangkok daripada jambu lokal dan durian
lokal.
2.
Meningkatkan Keanekaragaman Hayati
a. Reboisasi
Reboisasi (penghutanan kembali /
penghijauan) dapat meningkatkan kesuburan tanah dan
keanekaragaman hayati.
b. Mencegah
Pencemaran Lingkungan
c.
Melindungi Kawasan Tertentu.
D. Sistem tata nama ganda (binomial nomenclature)
Sebelum digunakan nama baku yang diakui dalam
dunia ilmu pengetahuan, makhluk hidup diberi nama sesuai dengan nama daerah
masing-masing, sehingga terjadi lebih dari satu nama untuk menyebut satu
makhluk hidup. Misalnya, mangga ada yang menyebut poah, ada yang menyebut pauh,
dan ada pula yang menyebut pelem. Nama pisang, di daerah jawa tengah disebut
dengan gedang, sedangkan di daerah Sunda gedang berarti pepaya. Karena adanya
perbedaan penyebutan ini maka akan mengakibatkan salah pengertian sehingga
informasi tidak tersampaikan dengan tepat atau pun informasi tidak dapat
tersebar luas ke daerah-daerah lain atau pun negara lain. Carollus Linnaeus
seorang sarjana kedokteran dan ahli botani dari Swedia berhasil membuat sistem
klasifikasi makhluk hidup.
Untuk menyebut nama makhluk
hidup, C. Linneaus menggunakan
System tata nama
ganda, yang aturannya sebagai berikut.
a. Untuk menulis namaSpecies(jenis)
1) Terdiri dari dua kata, dalam bahasa latin.
2) Kata pertama menunjukkan nama genus dan kata kedua merupakan penunjuk spesies.
3) Cara penulisan kata pertama diawali dengan huruf besar, sedangkan nama penunjuk spesies dengan huruf kecil.
4) Apabila ditulis dengan cetak tegak maka harus digarisbawahi secara terpisah antarkata, sedangkan jika ditulis dengan cetak miring maka tidak digarisbawahi. Contohnya: nama jenis tumbuhan Oryza sativa atau dapat juga ditulis Oryza sativa(padi) dan Zea mays dapat juga ditulis Zea mays (jagung).
5) Apabila nama spesies tumbuhan terdiri lebih dari dua kata maka kata kedua dan seterusnya harus disatukan atau ditulis dengan tanda penghubung. Misalnya, nama bunga sepatu, yaitu Hibiscus rosasinensis ditulis Hibiscus rosa-sinensis.
Sedangkan jenis hewan yang terdiri atas tiga suku kata seperti Felis manuculata domestica (kucing jinak) tidak
dirangkai dengan tanda penghubung. Penulisan untuk varietas ditulis seperti berikut ini yaitu, Hibiscus sabdarifa varalba (rosella varietas putih).
6) Apabila nama jenis tersebut untuk mengenang jasa orang yang menemukannya maka nama penemu dapat dicantumkan pada kata kedua dengan menambah huruf (i) di belakangnya. Contohnya antara lain tanaman pinus yang diketemukan oleh Merkus, nama tanaman tersebut menjadi Pinus merkusii.
b. Untuk menulis Genus(marga)
Nama genus tumbuhan maupun hewan terdiri atas satu kata tunggal yang dapat diambil dari kata apa saja, dapat dari nama hewan, tumbuhan, zat kandungan dan sebagainya yang merupakan karakteristik organisme tersebut. Huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar, contoh genus pada tumbuhan, yaitu Solanum (terungterungan), genus pada hewan, misalkan Canis (anjing), Felis (kucing).
c. Untuk menulis nama Familia(suku)
Nama familia diambil dari nama genus organisme bersangkutan ditambah akhiran -aceae untuk organisme tumbuhan, sedangkan untuk hewan diberi akhiran -idea. Contoh nama familia untuk terungterungan adalah Solanaceae, sedangkan contoh untuk familia anjing adalah Canidae.
d. Untuk menulis nama Ordo(bangsa)
Nama ordo diambil dari nama genus ditambah akhiran ales, contoh ordo Zingiberales berasal dari genus Zingiber + akhiran ales.
e. Untuk menulis nama Classis(kelas)
Nama classis diambil dari nama genus ditambah dengan akhiran -nae, contoh untuk genus Equisetum maka classisnya menjadi Equisetinae. Ataupun juga dapat diambil dari ciri khas organisme tersebut, misal Chlorophyta (ganggang hijau), Mycotina (jamur).
Binomial Nomenclature (Tatanama Biologi)
Binomial nomenklatur
Binomial nomenklatur atau tata nama binomial adalah suatu aturan penulisan nama spesies. Binomial nomenklatur ini harus dipenuhi dalam menuliskan nama ilmiah suatu spesies, baik itu hewan maupun tumbuhan
Tatanama
binomial
(binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan penamaan baku bagi semua
organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi
(biologi), dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai
adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang
dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan
oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk
bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah'
(scientific name). Awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin"
meskipun istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang
diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan
oleh orang yang pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor)
lalu dilatinkan.
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tatanama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tatanama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tatanama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tatanama Tanaman Budidaya, ICNCP).
Aturan penulisan
Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama ("epitet" dari epithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.
Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).
Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Teladan: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.
2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.
Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".
Keunggulan binomial nomenklatur adalah memudahkan kita menunjuk suatu spesies tanpa harus menerjemahkannya ke dalam bahasa lain. Nama ilmiah berlaku di seluruh dunia. Misalnya, jika kita menyebut “ayam”, mungkin orang Inggris tidak akan mengerti. Tetapi bila kita menyebut ayam dengan nama ilmiahnya, yaitu Gallus gallus, maka orang Inggris akan mengerti bahwa yang kita maksud itu adalah “chicken”.
Untuk mencari data suatu spesies di internet, juga lebih mudah menggunakan nama ilmiah. Misalnya, kita ingin mencari data mengenai suatu hewan dalam bahasa Inggris. Bila kita tahu nama ilmiahnya, kita bisa dengan mudah mencarinya di internet tanpa harus mengetahui bahasa Inggris dari spesies tersebut.
Contoh nama ilmiah dari beberapa spesies:
No Nama Tatanama Binomial - Spesies - Keterangan
1. Kedelai - Glycine soja - soja - Ordo Periscodactyla
2. Teratai - Nymphaea lotus - lotus
3. Padi - Oryza sativa - sativa - Ordo Commelinales
4. Harimau - Panthera tigris - tigris - Ordo Carnivora
5. Manusia - Homo sapiens - sapiens - Ordo Primata
6. Singa - Panthera leo - leo - Ordo Carnivora
7. Komodo - Varanus komodoensis - komodoensis - Ordo Lacertilia
8. Ayam - Gallus gallus - gallus - Ordo Rasores
9. Tapir Asia - Tapirus indicus - indicus - Ordo Periscodactyla
10. Kapas - Gossypium arborescens - arborescens - Malvaceae / Kapas2an
11. Jagung - Zea mays - mays - Ordo Commelinales
12. Jamur - Penicillium notatum - notatum - Ordo ascomycotina
13. Kembang sepatu Hibiscus * rosa-sinensis * rosa-sinensis - Malvaceae / Kapas2an
14. Kecoak * Periplaneta * periplaneta
15. Jengkol * Pithecollobium jiringa * jiringa
16. Kalajengking * Heterometrus syaneus * syaneus * Ordo scorpioidae
17. Kelabang * Scuitigera forceps * forceps * Ordo Chilopoda
18. Pinus * Merkusii * Merkusi
19. Jeruk Nipis * Citrus aurantiflora * aurantiflora
20. Bakung* amaryllis (Crinum asiaticum) * asiaticum * Amarylidaceae / Bakung2an
21. Asparagus * Asparagus officianalis * officianalis
22. Pakis asparagus * Asparagus fern * fern
23. Pisang * Musa sapientum * sapientum * Musaceae / Pisang2an
24. Ceremai Cicca acida acida
25. Elang hitam * lctinaetus malaiensis * malaiensis * Ordo Rapaces
26. Lidah buaya * Sansevieria trifaciata * trifaciata
27. Sukun * Artocarpus communis * communis
28. Terung * Solanum melongana * melongana * Solanaceae / Suku Terungan
29. Brokoli * Brassica oleracea var. botrytis * oleracea var. botrytis
30. Kubis * Brassica oleracea * oleracea * Cruciferae / kubis2an
31. Tomat * Salanum lycopercium * lycopercium * Solanaceae / Suku Terungan
32. Kenanga * Canangium odoratum * odoratum
33. Pepaya * Carica papaya * papaya * Caricaceae / Suku pepayaan
34. Belimbing segi * Averrhoa carambola * carambola
35. Karet * Hevea brasiliensis * brasiliensis * Euphorbiaceae / Getah2an
36. Cabai * Capsicum annuum * annuum * Solanaceae / Suku Terungan
37. Kucai * Allium * odorum * odorum
38. Kai lan * Brassica alboglabra * alboglabra
39. Sawi putih * Brassica chinensis * chinensis * Cruciferae / kubis2an
40. Kacang tanah * Arachis hypogaea * hypogaea * Papilionaceae / Kacang2an
41. Kacang panjang * Vigna sesquipedalis * sesquipedalis * Papilionaceae / Kacang2an
42. Lobak * Raphanus sativus var. hortensis sativus var. hortensis
43. Kayu manis * Cinnamomum zeylanicum * zeylanicum
44. Serai wangi * Cymbopogon nardus * nardus
45. Harimau dahan * Felis nebulosa * nebulosa * Ordo Carnivora
46. Cengkeh * Eugenia aromatica * aromatica
47. Lipas * Periplaneta americana * americana O* rdo Orthoptera
48. Semangka * Cucumis lanatus * lanatus * Cucurbitaceae / Suku timunan
49. Ketimun * Cucumis sativus * sativus * Cucurbitaceae / Suku timunan
50. Belalang jarum * Calopteryx virgo * virgo
51. Tikus beruk* Rattus cremoriventer * cremoriventer * Ordo Rodentia
52. Tikus besar kelabu * Rattus bowersii* bowersii Ordo Rodentia
53. Kambing * Capra hircus * hircus * Ordo Periscodactyla
54. Kacang hijau * Phaseolus aureus * aureus * Papilionaceae / Kacang2an
55. Hamster * Mesocrecetus * aurataus * aurataus
56. Ikan hering * Clupea harengus * harengus
57. Elang * Haliaetus teucocephalus * teucocephalus * Ordo Rapaces
58. Tembakau * Nicotiana tabacum * tabacum * Solanaceae / Suku Terungan
59. Cicak * Hemidactylus frenatus * frenatus * Ordo Lacertilia
60. Nangka * Artocarpus integra * integra
61. Katak * Bufo biforcatus * biforcatus * Ordo anura
62. Kangkung Ipomoea reptans reptans
63. Selada * Lactuca sativa * sativa
64. Gajah * Elephas indicus * indicus * Ordo Proboscoidea
65. Buah pala * Myristica fragrans * fragrans
66. Kelapa sawit * Elaeis guineensis * guineensis
67. Nanas Ananas * comosus * comosus * Bromeliaceae / Nanas2an
68. Labu * Cucurbita * maxima * maxima
69. Kelinci * Lepus cunniculus * cunniculus * Ordo Logomorpha
70. Kobra * Naya sputatrix *sputatrix * Ordo Ophidia
71. Asam jawa * Tamarindus indica * indica
72. Teh * Camellia sinensis * sinensis
73. Anai-anai* Coptotermes curvignathus * curvignathus
74. Buaya * Crorodylus porosus * porosus * Ordo Crocodilia
75. Penyu * Cheloniia mydas * Mydas * Ordo Chelonia
76. Kura-kura * Coura amboinensis a* mboinensis * Ordo Chelonia
77. Sapi * Bos indicus * indicus * Ordo Artiodactyla
78. Kerbau * Bubalus bubalus * bubalus * Ordo Artiodactyla
79. Domba Ovis * argal * argal Ordo Artiodactyla
80. Panda * Ailurus fulgens * fulgens
81. Bunga Bangkai * Rafflesia arnoldii * arnoldii
82. Badak jawa * Rhinoceros sondaicus * sondaicus * Ordo Artiodactyla
83. Burung Jalak Bali * Leucopsar rothschildi * rothschild
84. Kentang * Solanum tuberosum * tuberosum * Solanaceae / Suku Terungan
85. Kopi * Coffea arabica * arabica
86. Kuda * Equus cabalus * cabalus * Ordo Periscodactyla
87. Paus biru * Balaenoptea musculus * musculus * Ordo Cetacea
88. Tapir * Tapirus indicus * indicus * Ordo Periscodactyla
89. Babi * Sus scroga * scroga * Ordo Artiodactyla
90. Kuda Nil * Hipopotamus musculus * musculus * Ordo Artiodactyla
91. Jerapah * Giraffa camalopardalis * camalopardalis * Ordo Artiodactyla
92. Ikan Duyung * Halicore dugong * dugong * Ordo Sirenia
93. Gelatik * Amadina orizypora orizypora * Ordo Oscines
94. Kutilang * Pyenonotus aurigaster aurigaster * Ordo Oscines
95. Cendrawasih * Paradisea apoda apoda * Ordo Oscines
96. Gagak * Coruus enca * enca * Ordo Oscines
97. Lumba-lumba * Phoscaena communis * communis * Ordo Cetacea
98. Burung Gereja * Passer domisticus * domisticus * Ordo Oscines
99. Lutung * Phitecus pryghusx * pryghusx * Ordo Primata
100. Orang Utan * Pongo pygmaeus * pygmaeus Ordo Primata
101. Gorila * Gorilla gorilla * gorilla * Ordo Primata
102.. Tupai * Tupaja javavica * javavica * Ordo insectivora
103. Serigala * Canis lupus * lupus * Ordo Carnivora
104. Beruang Indonesia * Ursus Malayanus * Malayanus * Ordo Carnivora
105. Anjing laut * Phoca vitulina * vitulina * Ordo Carnivora
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tatanama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tatanama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional bagi Tatanama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tatanama Tanaman Budidaya, ICNCP).
Aturan penulisan
Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama ("epitet" dari epithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.
Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar, uppercase) dan nama spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).
Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Teladan: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.
2. Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.
Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".
Keunggulan binomial nomenklatur adalah memudahkan kita menunjuk suatu spesies tanpa harus menerjemahkannya ke dalam bahasa lain. Nama ilmiah berlaku di seluruh dunia. Misalnya, jika kita menyebut “ayam”, mungkin orang Inggris tidak akan mengerti. Tetapi bila kita menyebut ayam dengan nama ilmiahnya, yaitu Gallus gallus, maka orang Inggris akan mengerti bahwa yang kita maksud itu adalah “chicken”.
Untuk mencari data suatu spesies di internet, juga lebih mudah menggunakan nama ilmiah. Misalnya, kita ingin mencari data mengenai suatu hewan dalam bahasa Inggris. Bila kita tahu nama ilmiahnya, kita bisa dengan mudah mencarinya di internet tanpa harus mengetahui bahasa Inggris dari spesies tersebut.
Contoh nama ilmiah dari beberapa spesies:
No Nama Tatanama Binomial - Spesies - Keterangan
1. Kedelai - Glycine soja - soja - Ordo Periscodactyla
2. Teratai - Nymphaea lotus - lotus
3. Padi - Oryza sativa - sativa - Ordo Commelinales
4. Harimau - Panthera tigris - tigris - Ordo Carnivora
5. Manusia - Homo sapiens - sapiens - Ordo Primata
6. Singa - Panthera leo - leo - Ordo Carnivora
7. Komodo - Varanus komodoensis - komodoensis - Ordo Lacertilia
8. Ayam - Gallus gallus - gallus - Ordo Rasores
9. Tapir Asia - Tapirus indicus - indicus - Ordo Periscodactyla
10. Kapas - Gossypium arborescens - arborescens - Malvaceae / Kapas2an
11. Jagung - Zea mays - mays - Ordo Commelinales
12. Jamur - Penicillium notatum - notatum - Ordo ascomycotina
13. Kembang sepatu Hibiscus * rosa-sinensis * rosa-sinensis - Malvaceae / Kapas2an
14. Kecoak * Periplaneta * periplaneta
15. Jengkol * Pithecollobium jiringa * jiringa
16. Kalajengking * Heterometrus syaneus * syaneus * Ordo scorpioidae
17. Kelabang * Scuitigera forceps * forceps * Ordo Chilopoda
18. Pinus * Merkusii * Merkusi
19. Jeruk Nipis * Citrus aurantiflora * aurantiflora
20. Bakung* amaryllis (Crinum asiaticum) * asiaticum * Amarylidaceae / Bakung2an
21. Asparagus * Asparagus officianalis * officianalis
22. Pakis asparagus * Asparagus fern * fern
23. Pisang * Musa sapientum * sapientum * Musaceae / Pisang2an
24. Ceremai Cicca acida acida
25. Elang hitam * lctinaetus malaiensis * malaiensis * Ordo Rapaces
26. Lidah buaya * Sansevieria trifaciata * trifaciata
27. Sukun * Artocarpus communis * communis
28. Terung * Solanum melongana * melongana * Solanaceae / Suku Terungan
29. Brokoli * Brassica oleracea var. botrytis * oleracea var. botrytis
30. Kubis * Brassica oleracea * oleracea * Cruciferae / kubis2an
31. Tomat * Salanum lycopercium * lycopercium * Solanaceae / Suku Terungan
32. Kenanga * Canangium odoratum * odoratum
33. Pepaya * Carica papaya * papaya * Caricaceae / Suku pepayaan
34. Belimbing segi * Averrhoa carambola * carambola
35. Karet * Hevea brasiliensis * brasiliensis * Euphorbiaceae / Getah2an
36. Cabai * Capsicum annuum * annuum * Solanaceae / Suku Terungan
37. Kucai * Allium * odorum * odorum
38. Kai lan * Brassica alboglabra * alboglabra
39. Sawi putih * Brassica chinensis * chinensis * Cruciferae / kubis2an
40. Kacang tanah * Arachis hypogaea * hypogaea * Papilionaceae / Kacang2an
41. Kacang panjang * Vigna sesquipedalis * sesquipedalis * Papilionaceae / Kacang2an
42. Lobak * Raphanus sativus var. hortensis sativus var. hortensis
43. Kayu manis * Cinnamomum zeylanicum * zeylanicum
44. Serai wangi * Cymbopogon nardus * nardus
45. Harimau dahan * Felis nebulosa * nebulosa * Ordo Carnivora
46. Cengkeh * Eugenia aromatica * aromatica
47. Lipas * Periplaneta americana * americana O* rdo Orthoptera
48. Semangka * Cucumis lanatus * lanatus * Cucurbitaceae / Suku timunan
49. Ketimun * Cucumis sativus * sativus * Cucurbitaceae / Suku timunan
50. Belalang jarum * Calopteryx virgo * virgo
51. Tikus beruk* Rattus cremoriventer * cremoriventer * Ordo Rodentia
52. Tikus besar kelabu * Rattus bowersii* bowersii Ordo Rodentia
53. Kambing * Capra hircus * hircus * Ordo Periscodactyla
54. Kacang hijau * Phaseolus aureus * aureus * Papilionaceae / Kacang2an
55. Hamster * Mesocrecetus * aurataus * aurataus
56. Ikan hering * Clupea harengus * harengus
57. Elang * Haliaetus teucocephalus * teucocephalus * Ordo Rapaces
58. Tembakau * Nicotiana tabacum * tabacum * Solanaceae / Suku Terungan
59. Cicak * Hemidactylus frenatus * frenatus * Ordo Lacertilia
60. Nangka * Artocarpus integra * integra
61. Katak * Bufo biforcatus * biforcatus * Ordo anura
62. Kangkung Ipomoea reptans reptans
63. Selada * Lactuca sativa * sativa
64. Gajah * Elephas indicus * indicus * Ordo Proboscoidea
65. Buah pala * Myristica fragrans * fragrans
66. Kelapa sawit * Elaeis guineensis * guineensis
67. Nanas Ananas * comosus * comosus * Bromeliaceae / Nanas2an
68. Labu * Cucurbita * maxima * maxima
69. Kelinci * Lepus cunniculus * cunniculus * Ordo Logomorpha
70. Kobra * Naya sputatrix *sputatrix * Ordo Ophidia
71. Asam jawa * Tamarindus indica * indica
72. Teh * Camellia sinensis * sinensis
73. Anai-anai* Coptotermes curvignathus * curvignathus
74. Buaya * Crorodylus porosus * porosus * Ordo Crocodilia
75. Penyu * Cheloniia mydas * Mydas * Ordo Chelonia
76. Kura-kura * Coura amboinensis a* mboinensis * Ordo Chelonia
77. Sapi * Bos indicus * indicus * Ordo Artiodactyla
78. Kerbau * Bubalus bubalus * bubalus * Ordo Artiodactyla
79. Domba Ovis * argal * argal Ordo Artiodactyla
80. Panda * Ailurus fulgens * fulgens
81. Bunga Bangkai * Rafflesia arnoldii * arnoldii
82. Badak jawa * Rhinoceros sondaicus * sondaicus * Ordo Artiodactyla
83. Burung Jalak Bali * Leucopsar rothschildi * rothschild
84. Kentang * Solanum tuberosum * tuberosum * Solanaceae / Suku Terungan
85. Kopi * Coffea arabica * arabica
86. Kuda * Equus cabalus * cabalus * Ordo Periscodactyla
87. Paus biru * Balaenoptea musculus * musculus * Ordo Cetacea
88. Tapir * Tapirus indicus * indicus * Ordo Periscodactyla
89. Babi * Sus scroga * scroga * Ordo Artiodactyla
90. Kuda Nil * Hipopotamus musculus * musculus * Ordo Artiodactyla
91. Jerapah * Giraffa camalopardalis * camalopardalis * Ordo Artiodactyla
92. Ikan Duyung * Halicore dugong * dugong * Ordo Sirenia
93. Gelatik * Amadina orizypora orizypora * Ordo Oscines
94. Kutilang * Pyenonotus aurigaster aurigaster * Ordo Oscines
95. Cendrawasih * Paradisea apoda apoda * Ordo Oscines
96. Gagak * Coruus enca * enca * Ordo Oscines
97. Lumba-lumba * Phoscaena communis * communis * Ordo Cetacea
98. Burung Gereja * Passer domisticus * domisticus * Ordo Oscines
99. Lutung * Phitecus pryghusx * pryghusx * Ordo Primata
100. Orang Utan * Pongo pygmaeus * pygmaeus Ordo Primata
101. Gorila * Gorilla gorilla * gorilla * Ordo Primata
102.. Tupai * Tupaja javavica * javavica * Ordo insectivora
103. Serigala * Canis lupus * lupus * Ordo Carnivora
104. Beruang Indonesia * Ursus Malayanus * Malayanus * Ordo Carnivora
105. Anjing laut * Phoca vitulina * vitulina * Ordo Carnivora
CARA PEMBERIAN NAMA KELAS, BANGSA DAN FAMILI :
1. Nama kelas adalah nama genus + nae. contoh: Equisetum + nae,
menjadi kelas Equisetinae.
2. Nama ordo adalah nama genus + ales. contoh: zingiber + ales,
menjadi ordo Zingiberales.
3. Nama famili adalah nama genus + aceae. contoh: Canna + aceae, menjadi
famili Cannacea
Misal : Pongo pigmaeus
sumatraensis
AWAS !, perhatikan formatting
Spesies Genus
Petunjuk spesies
|
TAKSON
|
PADI
|
ORANG UTAN
|
|
Divisi / Phylum
Sub
Classis
[kelas]
Ordo [bangsa]
Familia
[suku]
Genus [marga]
Spesies
[jenis]
Sub-spesies
|
Spermatophyta
Angiospermae
Monocotyledonae
Poales / Glumiflorae
Poaceae /
Graminae
Oryza
Oryza sativa
L
|
Chordata
Vertebrata
Mammalia
Primata
Pongidae
Pongo
Pongo
pigmaeus
Pongo pigmaeus sumatraensis
|
2. Penulisan nama ilmiah yang benar menurut aturan binomial nomenklatur adalah .... [UNAS 2008/2009]
|
Nama
|
Keterangan
|
||
|
Nama penunjuk spesies
|
Nama genus
|
||
|
A.
|
Musa Paradiasaca
|
Musa
|
Paradisiaca
|
|
B.
|
Musa paradisiaca
|
Musa
|
Paradisiacal
|
|
C.
|
musa paradisiaca
|
musa
|
Paradisiacal
|
|
D.
|
Musa Parradisiaca
|
Paradisiaca
|
Musa
|
|
E.
|
Musa paradisiaca
|
paradisiaca
|
Musa
|
Sistem Tata Nama Ganda
Sistem tata nama ganda
atau binomial nomenclature adalah bahasa yang digunakan untuk memudahkan
komunikasi antar-ilmuwan Biologi mengenai jenis makhluk hidup. Orang yang
menciptakan sistem tata nama ganda adalah Carolus Linnaeus pada
tahun 1735. Bahasa yang digunakan oleh Linnaeus dalam sistem tata
nama adalah bahasa Latin, karena pada masa Linnaeus bahasa tersebut adalah
bahasa ilmiah yang universal. Sistem tata nama ganda berupa nama ilmiah pada
setiap spesies makhluk hidup. Sistem tata nama terdiri dari 2 bagian,
yaitu bagian pertama menunjukkan nama genus dan bagian kedua menunjukkan
nama spesies.
Sistem tata nama ganda
memiliki aturan tertentu. Aturan dalam sistem penamaan tersebut adalah :
Kata pertama menunjukkan nama genus
Kata kedua menunjukkan nama
spesies
Nama genus harus diawali dengan
huruf besar (huruf pertama dalam nama genus harus huruf besar)
Nama spesies diawali dengan huruf
kecil (huruf pertama dalam nama spesies harus huruf kecil)
Kedua kata tesebut harus
digarisbawahi (underline) jika ditulis dengan tangan
Jika diketik dengan
komputer kedua kata tersebut dicetak miring (italic)
Nama penemu (Linnaeus)
ditulis dalam singkatan (L.) atau ditulis lengkap di belakang nama penunjuk
spesies
Nama penemu (Linnaeus)
ditulis dengan huruf besar di awal dan tidak digarisbawahi
juga tidak dicetak miring
Contoh :
Pisang = Musa
paradisiaca L.
Musa menunjukkan nama genus dari
pisang.
Dan paradisiaca
menunjukkan nama spesies dari pisang.
Sedangkan " L. "
menunjukkan nama penemu sistem tata nama ganda atau binomial
nomenclature (Linnaeus).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar